Aku mencintaimu

Reaksi:
Malam menyebar resah dalam hujan dan angin yang terus mengganas menyerbu, tapi hatiku tetap terbakar. Badanku menggigil. Entah karena dingin atau adrenalin yang mengalir bersama racun dari teman setiaku yang telah kuhabiskan berbatang-batang. Aku tidak tahu apakah sekarang ini hatiku marah, kecewa, dendam, sakit atau memang semua itu bercampur mengotori tubuh dan jiwaku.

“Kau menghianati kepercayaanku, Igo! Aku pikir kau akan selalu menjadi sahabatku. Tapi ternyata kamu sama saja. Penuh kebohongan. Selama ini kamu menipu aku… Aku muak!”

Kata-kata Angel sore tadi terus menjejali telingaku. Perempuan itu, kenapa dia harus terus menghantui aku?

“…kamu sengaja membuat aku percaya dan bergantung padamu, membuat aku tidak bisa lepas dari kamu. Tapi aku bisa, Igo! Aku bisa menjadi diriku…”

Memang aku masuk dalam kehidupan Angel pada saat dia labil. Tapi itu bukan awal cintaku. Aku mencintai Angel sejak pertama mata malaikat itu menyandera pandanganku, jauh sebelum itu. Jauh sebelum dia semakin mempengaruhi hidupku dengan kecantikan hati dan pikirannya. Sebelum dia mendatangkan mimpi-mimpi indah yang mulai menyiksa otakku.

Aku selalu mencoba untuk membangun kembali kepercayaan dalam dirinya. Pada dirinya sendiri, juga padaku. Aku bukan ingin Angel bergantung padaku.

Dan akhirnya aku bisa…

Aku juga ingin Angel kembali membiarkan hatinya mencinta. Bukan hanya pada diriku. Aku ingin dia bahagia. Bila Angel harus mencintai laki-laki lain, biarlah. Sungguh! Aku memang ingin Angel mencintaiku, tapi bukan dengan menipu jiwanya. Aku mencintai jiwanya.

Hujan mulai bosan dan berlalu. Tapi angin yang dingin tetap senang menusuk-nusuk kulitku. Kubakar lagi sebatang rokok, lalu menghabiskan isi botol minuman dengan bau menyengat yang pernah aku haramkan sejak aku mengenal Angel.

“Tidakkah kamu lihat, aku pernah berubah untuk kamu, Angel!!!” batinku berteriak mencoba menghalau ngiangan suaranya dari telingaku.

“Aku tidak mau kamu mempengaruhi hidupku lagi, aku mau kamu pergi, Igo!”

Ya, aku pergi. Aku berlari. Mencoba untuk sendiri. Lepas dari kejaran kata-kata Angel. Dan bila aku mampu, lepas dari segala kenyataan.

◊◊◊

Angin melentik melewati jendela kamar menghantar bau tanah basah. Gerimis yang menderai seakan menemani air mata yang terus mengalir tanpa mengering. Mataku sembab. Semua karena Igo!

Aku pernah berkorban demi cintaku pada laki-laki. Menyiksa diri demi mereka. Memang sempat aku menikmatinya (katakanlah aku bodoh). Tapi akhirnya aku selalu menemukan diriku sendiri, hanya sakit dan dendam yang tersisa. Itu yang membuat aku muak pada semua laki-laki. Mereka egois! Mereka hanya monster yang bertahan hidup dengan menghisap kebahagian perempuan, dan dengan bangga mengumpulkan hati perempuan yang mereka injak-injak, untuk dipamerkan pada sesama mahluknya.

Dulu aku pikir Igo berbeda. Dia sangat baik,dan sabar. Dia selalu membela dan mau berkorban untuk keinginanku. Aku menemukan kembali alasan untuk membiarkan seorang laki-laki (hanya dia seorang!) hidup dalam hari-hariku. Hari-hari, yang harus aku akui, aku bahagia. Selalu ada tawa yang kami bagi. Dan bila tidak ada, dia akan membiarkan aku menangis didepannya. Hingga dia atau aku merasa bosan, dan kembali tertawa. Dia adalah aku, dan aku adalah dia. Tidak ada rahasia. Igo bagaikan sumber kehidupan, kebajikan dan kebahagiaan bagiku.

Sampai Igo menyatakan cinta.

“…kenapa, Igo?!”

◊◊◊

Senja temaram. Bulan tak mampu mengalahkan gumpalan awan. Aku masih menunggu penuh harap ada suara balasan diujung telepon genggamku. Aku sudah tidak tahan jauh darinya. Segala yang kulihat mengingatkan aku pada Angel. Dia sudah benar-benar melekat dalam pikiranku.

Aku harus bicara dengan Angel. Siapa tahu marahnya sudah reda dan mau mendengarkan kata-kata yang sudah siap diujung lidahku. Aku mau menjadi apapun yang dia minta. Aku bisa mengubur rasa cintaku dan menjadi sahabatnya. Hanya sahabat. Walau aku tahu mungkin akan datang saat, dimana Angel akan mencintai laki-laki lain, aku akan tetap ada disampingnya sebagai pecundang. Apapun, asalkan aku bisa tetap berada didekatnya, menemani hidupnya, dan melindunginya.

Tapi tetap suara merdu yang aku tunggu tidak ada dibalik sana. Sudah berkali-kali dan berhari-hari aku coba menghubunginya, tetap sama, tak ada jawaban. Bahkan sudah empat hari kemarin aku mendatangi rumahnya, tapi dia tidak pernah mau menemuiku.

“Akan kucoba lagi besok pagi,” dalam hati aku berkata sebelum aku, tertidur…

◊◊◊

Aku menghitung suara jam dinding, tiga kali berdentang. Sudah jam tiga pagi rupanya. Tapi kenapa aku masih tidak bisa tidur. Aku masih memikirkan Igo. Ku ambil telepon genggamku, berpuluh kali nama Igo muncul tapi tak pernah aku jawab. Aku rindu dia, tapi aku masih bimbang. Ku baca lagi tujuh belas SMS yang dia kirim hari ini.

“From: igö

Angel kmu dmn? Gmn kbr kmu? Aku prlu ngomong,plz..

Tlg rpl.”

Semua berisi sama, seperti kemarin, hari sebelumnya, juga hari sebelum itu. Tapi tak satupun yang mampu mengusir bimbangku, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan padanya. Kata maaf kah?

Dulu aku selalu tertawa bila mengingat hal ini. Igo selalu mengirim SMS sebanyak tujuh belas kali bila dia membuatku kesal. Igo bagai memuja angka ini, tanggal ulang tahunku. Dan masih banyak hal-hal mengenai aku yang dia puja. Membuatku selalu bertambah mengagumi laki-laki ini. Tapi sekarang…

Ya, aku memang mencintai Igo. Sangat mencintainya. Dia berhasil membuat cinta kembali mengisi hatiku. Tapi aku tidak bernyali melawan orang tuaku, mereka tidak akan pernah memberikan restu aku berhubungan dengan orang yang berlainan agama. Igo tahu itu.

Seharusnya Igo jangan pernah mengatakan cinta! Aku tidak bisa memilih antara Igo dan keluargaku. Aku lebih mencintai Igo, tapi aku takut akan karma, kutukan orang tuaku karena aku menjadi anak durhaka.

Tuhan, kenapa Kau membiarkan aku mencintai Igo tapi harus penuh dijejali dengan aral?

Aku bimbang…

◊◊◊

Tiga minggu menghilang tanpa aku bertemu dengan Angel. Semenjak pagi aku sudah berdiam dalam mobilku yang aku parkirkan di depan rumahnya. Tapi dia tidak terlihat. Ragu aku mengetuk pintunya. Aku takut dia masih malas bertemu denganku. Aku berharap Angel yang melihat aku, lalu membukakan pintu untukku. Atau saat dia terpaksa keluar, apapun alasannya, aku dapat menyergapnya. Dia tidak mungkin menghindar lagi kalau begitu.

Tapi kini matahari sudah berganti bulan yang malas bersinar. Kulirik jam tanganku, jam tujuh. Penantianku tidak berbuah hasil. Yang aku dapati hanya nyamuk tak berotak yang mencoba membuat aku kehabisan darah dan pandangan curiga dari preman-preman lokal yang bercokol di kios rokok diseberang mobilku. Mereka mungkin menyangka aku maling yang ingin beroperasi di daerah mereka.

Kucoba menelepon Angel. Tapi percuma saja. Aku kesal, dan mulai melangkahkan kaki ku ke pintu rumah Angel.

◊◊◊

Aku tahu pastilah Igo yang berdiri diluar, dibalik pintu itu. Aku mencoba mengumpulkan segala rasa rinduku agar nyaliku tumbuh. Harus, aku harus bertemu dengannya!

Tak sadar ku temui diriku sudah berada didepan pintu dan jari-jari tanganku sudah berada pada kunci yang menggantung. Tinggal kuputar kunci ini sedikit, maka aku akan segera bertemu dengan laki-laki yang hampir membunuhku dengan rasa rindu, dan aku bisa segera meminta pertanggung jawabannya.

Benar, begitu aku buka pintu itu aku sudah kehilangan rasa malu dan tidak sanggup menahan diriku. Segera kutarik tubuhnya masuk dan mengunci pintu. Lalu kubiarkan diriku jatuh dalam pelukan yang selalu membuatku merasa aman dan damai. Aku memang perlu laki-laki ini dalam hidupku. Aku menangis sejadinya sambil memaki. Memaki dirinya dan memaki kebodohanku, ketololanku.

Dan kini kunikmati bibir Igo yang mencoba untuk menghentikan bibirku mengeluarkan segala hujatan. Aku semakin terhanyut dalam pelukannya. Aku bahagia…

Tapi…

“Tidak! Jangan, Igo!!! Berhenti! Jangan lakukan…”

◊◊◊

Aku menggila. Tak lagi aku hiraukan teriakannya. Yang melintas hanya keinginanku untuk mendekapnya, menciumnya, mencumbunya. Perlawanan Angel semakin tak berarti.

Hingga tiba-tiba aku merasa lemas, ingin berbaring. Tapi tetap kupandangi Angel yang menyeret tubuhnya. Kaki-kaki indah itu menjauh. Mendorong sebentuk tubuh putih halus dihiasi pakaian yang terkoyak hebat menyuruk disudut. Mata malaikat yang selalu menyandera pandanganku membelalak memandangi jari-jari lentiknya yang bergetar.

Aku tersenyum… Sungguh indah perempuan ini.

Aku melayang…

Sempat sesaat aku menghiraukan seonggokan tubuh yang pernah aku tempati, terbujur tak berkutik. Cahaya berkilau dari sebilah pisau menancap di punggung.

Kembali aku memandang Angel, mahluk cantik itu…

Aku melayang kian tinggi…

Aku mencintaimu Angel…
< >

Tidak ada komentar:

Posting Komentar