Kerinduanku buat ayah

Reaksi:
Lampu kamar masih terlihat menyala. Matahari diluar sana sudah lama kembali kepersinggahan sesaat. Hanya ada suara detak jarum jam yang secara runtut menunjukkan perubahan waktu. Liranz masih saja dengan lamunannya. Matanya terlihat sayu penuh harapan. Sesekali senyumnya merekah ketika membayangkan harapannya yang lucu. Harapan-harapan anak berusia 6 tahun yang tentu saja sarat akan kegembiraan dan keceriaan.

“ Kapan ya, ayah mengajakku bermain ke taman kota.”

Tiba-tiba saja pertanyaan itu muncul. Senyumnya yang lalu perlahan memudar. Berganti dengan mimik muka memelas. Sudah berkali-kali pertanyaan itu muncul. Namun sampai sekarang pun dia masih bingung, dengan siapa di harus menanyakan pertanyaan itu. Sedang sehari-hari, dia menjalani hidup seoarang diri di rumah itu. Ibunya sudah lama tak terlihat. Kata ayahnya, ibunya telah tiada sejak Liranz dilahirkan. Entah benar atau tidak, dia pun kembali bingung, dengan siapa dia harus menanyakan pertanyaan itu. Sedang ayahnya adalah seorang pekerja keras yang sehari-hari bekerja di sebuah percetakan. Bahkan bisa di pastikan bahwa hampir tidak ada waktu libur untuk ayah Liranz selama dia bekerja sebagai tenaga percetakan. Dia selalu berangkat ketika Liranz tengah melayang di dalam mimpi dan pulang ketika Liranz sudah bermain-main di dalam mimpinya. Komunikasi mereka sebagai ayah dan anak pun seakan terputus.

Lama sekali Liranz melamun sambil memeluk boneka beruangnya. Dan diapun perlahan memasuki dunia mimpi dan mulai asyik bermain di dalamnya. Bertemu dengan teman-temannya sambil memainkan mainan yang pasti tidak dapat dia dapatkan ketika dia mulai membuka mata. Yah…itulah dunia Liranz. Hanya dengan bermimpi dia menemukan kebahagiaan.

***

Perlahan Liranz bisa merasakan sinar matahari merabai wajahnya. Matanya yang berat perlahan mulai terbuka. Dan, benar saja matahari telah bersuara dengan alam di luar sana. Segera saja Liranz turun dari pembaringan. Sambil sesekali menguap, Liranz berjalan gontai menuju ruang makan. Yang sudah dia hafal, pastilah ayahnya meninggalkan sepucuk pesan untuknya hari ini.

Setelah menarik kursi dan mendudukinya, dia segera meraih sepucuk surat dari ayahnya itu.

Liranz sayang ….

Makanan sudah ayah siapkan di meja makan.

Untuk makan malam ada di lemari makan,

Dan uang itu untuk pegangan Liranz saja,

Kalu ada apa-apa jangan lupa telepon ayah,

Jaga diri baik-baik ya

Papa


Liranz segera mengambil uang dari ayahnya tersebut. Dan segera kembali menuju ke kamarnya. Sesudah itu, dia akan memasukkan uang itu kedalam kaleng bekas biskuit yang memang sudah dia gunakan sehari-hari untuk menyimpan uang. Setelah itu, dia akan bergegas mandi dan sarapan. Dan, mulailah dia memutar otak, mencari ide tentang apa yang akan dia lakukan hari ini.

Sudah hampir satu tahun dia menjalani rutinitas seperti ini. Dulu ketika dia masih bayi sampai usia lima tahun, dia diasuh oleh seorang pembantu. Kini ketika dirasa dia sudah bisa mengurus dirinya sendiri, maka ayahnya memutuskan untuk tidak menggunakan jasa pembantu lagi.

Liranz memang sudah mahir untuk membaca. Sudah dari kecil pembantunyalah yang telah mengajarinya membaca. Bahkan beberapa menu masakan seperti nasi kukus, telor balado dan semur tempe pun sudah dia kuasai. Dan, itulah salah satu sebab yang melatarbelakangi ayahnya untuk tidak lagi memakai jasa pembantu. Karena Liranz sudah dirasa bisa mengurus dirinya sendiri.

Baru tahun depan dia akan di daftarkan ayahnya kesekolah dasar. Usia yang memang sudah cukup terlambat. Bahkan ayahnya pun tidak memberinya kesempatan untuk sekolah di taman kanak-kanak. Yang tentu saja karena keadaan perekonomian mereka. Dan setiap hari Liranz selalu menanti saat-saat dirinya akan bersekolah. Dan mendapat teman-teman yang nyata dan bukan hanya berteman dengan anak-anak di dalam mimpi.

Dan hari ini dia akan bermain dengan boneka beruangnya di ayunan belakang rumah. Seperti yang sering dia lakukan sehari-hari selain bersepeda dan mendengarkan musik anak-anak di radio. Segera Liranz menggendong bonekanya dan beranjak dari kamarnya.

Beberapa langkah belum jauh dari pintu kamar, langkah Liranz seolah gontai sesekali dia menyandarkan dirinya di tembok dan memegangi kepalanya. Dia hanya bisa mengaduh dan menangis. Tanpa pikir panjang, dia pun kembali ke dalam kamar dan menjatuhkan dirinya ke pembaringan. Oh…sungguh terasa sakit kepalanya saat itu. Dan dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan, kecuali kembali bersua dengan teman-temannya. Di dunia mimpi Liranz terlelap tidur.

***

Hari sudah siang dan Liranz pun tebangun dari tidurnya. Ada terbersit niat untuk menghubungi ayahnya dan mengabarkan keadaannya saat ini. Dan diapun segera mendekat ke pesawat telepon tua di sudut ruang tengah. Dengan lancar Liranz menekan urutan angka yang biasa dia lakukan untuk menghubungi ayahnya. Sampai sebuah suara menanggapi panggilannya.

“ hallo…”. Suara di ujung sana.

“ halo… bisa bicara sama Pak Kurniawan”. Sambung Liranz.

“oh.. tunggu sebentar ya dek”.

Liranz berniat untuk memberitahukan keadaanya pada ayahnya. Namun kemudian muncul sebuah pemikiran, apakah kabar tentang dirinya tidak akan mengganggu konsentrasi kerja ayahnya. Karena Liranz tahu Boss ayahnya orangnya galak. Ayahnya pernah cerita kalau dirinya pernah dihukum tidak makan karena salah cetak.

Kalau ayahnya melakukan kesalahan yang sama pasti, Bossnya akan sangat marah.

“Hallo… Liranz”

“Ayah e…..eeee”

“Hallo, Liranz, ada apa, nak”

“E… E… ayah kerjanya baik-baik saja kan, yah”

“Iya, ada apa”

“Ngga… Liranz Cuma pingin tahu apakah ayah baik-baik saja atau ngga”

“ayah baik kok… Hari ini papa dapat pesanan banyak”

“O… Ya udah, pa”

“O… Ya, jaga diri baik-baik ya, nak”

“Ya, yah”

Begitulah Liranz. Diusianya yang sekecil itu, namun dia sudah dapat mempunyai pola pikir layaknya seorang dewasa.

Alhasil, Liranz pun melanjutkan harinya bersama rasa sakit di kepalanya seorang diri.

***

Dua hari dengan rasa sakit di kepala telah dia lalui. Ironis memang. Seorang anak yang biasanya merengek karena rasa sakit, namun Liranz justru harus merasakan pula perasaan merasa takut bersalah. Dia berpikir, apabila dia menceritakan hal ini kepada ayahnya maka ayahnya akan meminta izin libur kepada Bossnya, untuk membawa Liranz ke dokter. Sedangkan Liranz tidak mau itu terjadi. Dia tidak ingin menambah beban pikiran ayah kesayangannya itu. Dia takut ayahnya panik. Di samping itu, dia juga takut terjadi masalah yang menimpa ayahnya di tempat kerja.

Pandangannya merabai seluruh isi kamar. Dia berharap akan ada suatu hal yang dapat menolong dirinya dari masalah pelik ini. Sampai akhirnya, pandangannya tertuju pada sebuah kaleng biskuit warna merah di dekat pembaringannya. Tanpa berpikir lama lagi, dia meraih kaleng biskuit itu. Dan dibukanya kaleng itu dengan sisa-sisa tenaga sakitnya.

“Cukup apa ngga ya, untuk pergi ke dokter”

Liranz menopang dagunya dengan kedua lutut yang dia lipat rekatkan. Sesaat dia menarik napas panjang. Berpikir apa yang tengah terjadi pada dirinya. Kenapa Tuhan tidak memberinya Kesehatan yang abadi saja. Dengan begitu, dia tidak akan merasakan sakit ini dan dia juga tidak harus terjerat perasaan takut untuk berkata jujur kepada ayahnya.

Dengan berbekal uang di kaleng itu, Liranz berjalan gontai menyusuri jalan raya. Dia sudah memutuskan untuk pergi ke rumah sakit, tempat ayahnya dulu dirawat ketika sakit. Rumah sakit itu tak jauh dari rumahnya, hanya terpaut beberapa gang saja. Tanpa pikir panjang, Liranz masuk dan berdiri tegak di depan orang yang dia sendiri tidak tahu siapa.

“Adik, mau apa?”

“Mau periksa”, dengan gaya anak-anak Liranz menerangkan.

“Adik sakit apa?”

“Kepala”

“O…”

Dan orang yang ternyata adalah seorang dokter tersebut segera membawanya ke dalam ruang praktek. Kemudian, dokter itu menyuruh dan mengangkat Liranz untuk berbaring di pembaringan. Sementara kotak biskuit yang dari tadi menemaninya, dia letakkan di atas meja dokter tersebut. Dan beberapa saat kemudian, dokter mulai aktif memeriksa Liranz. Liranz yang memang tidak tahu apa penyakitnya sebenarnya hanya bisa berdiam diri.

“Adik ke sini sama siapa?”

“Sendiri”

Sesaat dokter itu tersentak. Dia pikir Liranz adalah anak pasien di rumah sakit itu yang sedang jalan-jalan. Dan dokter pun mempersilahkan Liranz pulang sambil berpesan,

“Dik, tolong sampaikan ke ayah atau ibumu, kalau adik harus dirontgen di rumah sakit umum. Ya, dik”

Liranz hanya mengangguk mengingat pesan yang disampaikan dokter yang baik hati tersebut. Dan Liranz pun memberinya kaleng biskuitnya kepada dokter tersebut. Kemudian melanjutkan langkah gontainya untuk pulang ke rumahnya. Kepergian Liranz dari rumah sakit disertai dengan gumamman dokter yang baik itu,

“Kasihan anak itu… Di usia yang masih kecil sudah ada tanda-tanda kanker otak.”

***

Di dalam kamar. Liranz melamun tanpa arah. Tiba-tiba saja beberapa bayangan tentang kehidupannya yang telah lalu kembali muncul. Air matanya pun mengalir di pipi merahnya. Kemudian terbersit keinginan untuk berterus terang saja kepada ayahnya. Dia segera mengambil selembar kertas dan sepucuk pena dari meja di samping pembaringan.

Ayah….

Aku ingin bermain di taman kota bersama ayah

Kapan ya ayah?

Kalo ayah ada waktu, nanti kita ke taman kota ya ayah


Liranz pun kemudian merasa rindu dengan teman-temannya di taman impiannya. Dia terlelap tidur di atas lipatan tangannya.

***

Pagi sudah kembali datang. Tubuh kecil Liranz sudah terbaring ringan di atas pembaringan. Matanya sembab. Pada hal dia tidak habis menangis.

“Liranz……”

Suara ramah dan bijaksana yang sudah lama tak Liranz dengar pun ada pagi itu. Seolah Liranz tidak percaya dengan apa yang terjadi pagi itu.

“ hari ini ayah libur kerja. Ayah ingin bermain bersama kamu di taman kota. Kamu segera mandi dan sarapan. Pagi ini juga kita berangkat ke taman kota.

Tubuh ringan Liranz serasa melayang. Dia tidak pernah mengira bahwa ini bener-benar akan terjadi. Dia pun bergegas membenahi dirinya seindah mungkin, karena dia pikir hari ini mungkin tidak akan pernah dia lupakan untuk selamanya.

***

Di taman kota. Senyum Liranz tak pernah terlihat surut. Dia sangat menikmati hari-hari bersama ayahnya itu, yang sama sekali belum pernah dia rasakan. Entah mengapa, sifat manjanya pun tiba-tiba muncul. Dia mainkan yang ada satu persatu tanpa terlihat sedikit pun rasa lelah. Ayahnya pun menyadari tadi terlihat sangat bahagia menikmati hari liburnya itu. Sampai saat senja datang, baru mereka memutuskan untuk kembali ke rumah, walaupun sebenarnya mereka belum puas menikmati hari bahagia itu.

***

Hari ini, berjalan kembali seperti biasanya. Liranz kembali dalam kesendiriannya di rumah itu. Namun, kelihatannya dia sangat kelelahan setelah menikmati hari kemarin. Pagi ini dia masih terlelap di atas pembaringan. Ayahnya yang akan berangkat bekerja, menyumbanginya untuk sekedar memberinya sekecup ciuman. Segeralah ayah Liranz duduk di sudut pembaringan. Ayah Liranz kemudian sangat terkejut. Tubuh Liranz hari ini terasa sangat dingin. Bahkan badannya sedikit kaku dari biasanya. Dia memegangi sebuah kertas. Dan ayah Liranz segera mengambilnya kemudian membukanya.

Ayah….

Liranz sangat gembira sekali. Karena kemarin ayah sudah mengajak Liranz bermain di taman kota. Terima kasih buat semua kasih sayang dari ayah. Liranz minta maaf kalau selalu membuat ayah bingung. Liranz sayang sama ayah.

Ayah,,,,Liranz pingin bertemu sama temen-temen Liranz dulu ya. Mereka mengajak Liranz buat menginap di rumah mereka selamanya.

Ayah,,,,kalau Liranz tidak tahu jalan pulang, ayah jemput Liranz ya.

Liranz sayang ayah…

Liranz


Kemudian ayah Liranz memeriksa denyut nadi Liranz. Dan ternyata dia tidak menemukannya di pergelangan tangan. Dia mencobanya di bagian leher, tapi dia juga memperoleh hasil yang sama. Sontak, ayah Liranz menangis sejadi-jadinya. Karena anak yang satu-satunya yang belum sempat dia bahagiakan, harus pergi untuk selama-lamanya.

Liranz, gadis cilik yang pintar dan mandiri. Harus pergi tanpa bisa merasakan keindahan dunia terlebih dahulu. Penyakit yang hanya di ketahui olehnya dan dokter baik hati itu, memaksa Liranz pergi untuk selama-lamanya. Dan dia meninggalkan luka yang teramat pedih di hati ayahnya. Ayah yang belum terlalu banyak memberinya kebahagiaan. Ayah yang selalu sibuk dan hampir tidak punya waktu untuk membahagiakannya.

Selamat jalan Liranz, semoga kamu bahagia bersama teman-teman barumu. Dan tak akan lagi harus sendiri dan kesepian.
< >

Tidak ada komentar:

Posting Komentar