Sebuah Janji

Reaksi:
Sayang...
Kau tidak akan menerima undangan pernikahanku,
yang sudah kujanjikan hanya akan ada aku dan kamu.

Sayang...
Apa kau tak ingat sebuah kecup,
yang pernah kau hadiahkan tepat di dahiku,
saat malam tepat ingin memeluk kita,
yang tengah menggigil dan mengejang?

Ingat, saat kau singkap rokku diam-diam di tiap malam,
dan kau permainkan lidahmu, memancing birahiku,
yang pernah kau bilang mati?
Maka janinlah hasil semua itu,
yang kugugurkan lalu kuberdiri di kursi tua,
mengikat leherku dengan tali rafia.

Maka hari ini, di hari yang kudamba-damba
kau datang membawa gitar tua memainkan nada-nada minor
dari senar yang sudah ingin tertawa.
< >

Tidak ada komentar:

Posting Komentar