Ku takkan berubah !!!

Reaksi:
Tidak setiap kasih akan disambut dengan sayang. Tidak setiap cinta akan berhasil diwujudkan. Sering aku membaca cerita atau menonton film tentang cinta. Begitu manis dan indahnya kisah-kisah mereka. Di dunia nyata ini, kudapati bahwa segalanya sangatlah berbeda.

Tidak semudah itu mendapatkan sesuatu yang amat didambakan. Cinta dapat membawa arti dan kebahagiaan dalam hidup. Namun cinta juga dapat membuat hidup ini menjadi sangat rumit bagai benang yang kusut.
Pendapatku di atas memang sedikit aneh bagi kebanyakan orang. Mungkin kalian ingin tahu mengapa aku berpendapat seperti itu. Baiklah, akan kuceritakan pengalaman pribadi yang baru saja kualami.

Cerita ini bermula setahun yang lalu. Ketika itu aku mulai menaruh hati pada seorang gadis muda yang berparas cukup lumayan. Sebenarnya sih aku sudah mengenalnya sejak lama. Tapi baru sejak saat itulah keakraban kami menumbuhkan suatu perasaan yang khusus di hatiku.

Rika Viona Dewi, itulah nama lengkapnya. Aku lebih suka memanggil gadis itu dengan nama Rika. Dia seorang penari yang cukup handal. Bahkan sudah professional, kalau boleh kukatakan. Untuk sekali show dia telah dibayar dengan segepok rupiah yang setidaknya cukup untuk memberinya kehidupan yang berkecukupan.

Bila kubandingkan dengan tiga orang pacarku yang terdahulu, sebenarnya kecantikan Rika tidak lebih dari mereka. Paras wajahnya memang ayu, tapi belum cukup untuk dapat dikatakan istimewa.
Entahlah, kurasakan ada sesuatu yang menarik dalam dirinya. Sesuatu itu pula yang menumbuhkan rasa cinta di hatiku, lebih dari yang pernah kurasakan sebelumnya.

Siang hari aku sibuk dengan pekerjaan kantor. Kesempatanku menemuinya hanyalah sore dan malam hari. Suatu keuntungan bahwa aku berteman cukup baik dengan sobat-sobatnya. Sering kumanfaatkan hal ini untuk membuat acara bersamanya.

Seperti anak-anak muda lainnya, kami (aku, Rika, dan teman-teman) tentu saja tak dapat lepas dari kegemaran pesta, nonton, dan lain-lainnya itu (tahu sendiri lah !). Perlahan tapi pasti, lewat kesempatan-kesempatan itulah aku mencoba merebut hatinya.

Masih jelas kuingat saat-saat ketika aku mengetikkan naskah makalah untuk Rika (dia masih kuliah). Susah payah aku mengetik sampai larut malam untuknya, eh ternyata ia sudah membuat sendiri tugas itu. Jadinya sia-sia dah hasil kerjaku semalam.Sebenarnya aku agak dongkol ketika itu. Tapi senyum dan tawanya yang manis itu sekali lagi mampu meluluhkan perasaanku.

"Sori banget ya, Vi. Aku sudah buat sendiri tugas itu tadi malam. Lagi nganggur sih ! Kupikir kamu cuma main-main waktu kamu bilang mau bikin tugas itu untukku," kata Rika dengan gayanya yang khas.

"... ya udah deh ! Nggak apa-apa kok !" sahutku kesal.

"Jangan marah dong ! Gini aja, sebagai gantinya nanti sore aku traktir makan, mau nggak ?!"

"Hmmm, serius nih ?" tanyaku penuh selidik.

"Iya dong ! Aku bayarin makannya, tapi kamu wajib jemput aku di rumah. Soalnya kakakku lagi pergi, jadi nggak bisa nganterin."

"Oke lah ! Jam berapa ?"

"Jam lima."

Waktu itu kupikir acara makan cuma berdua aja (kesempatan nih !), tapi ternyata dia malah ngajakin konco-konconya yang cewek semua itu.

Seperti yang kuduga, saat acara makan mereka justru pada asyik ngegosip. Aku yang cowok sendiri ini tentu aja dicuekin. Cuma sekali dua kali mereka ngomong ama aku, itupun dengan maksud "ngerjain". Terang aja aku nggak berkutik, lha aku dikeroyok !

Kejadian seperti ini bukannya sekali doang, selalu saja rencanaku gagal karena kehadiran teman-temannya yang jago ngerumpi itu. Sekali dua kali aku tidak curiga, tapi lama-kelamaan kusadari bahwa Rika selalu berusaha didampingi mereka saat punya acara denganku. Hmm, apakah memang ini cara cewek jaman sekarang mengantisipasi segala usaha pendekatan dan rayuan dari cowok ?! Entahlah, pusing aku !

Hari demi hari makin kusadari bahwa cintaku yang kali ini memang berbeda dengan yang dulu-dulu. Memang, tidak semua cewek yang kusuka berhasil kuperoleh. Tapi setidaknya mereka selalu menunjukkan sikap yang jelas terhadapku. Suka atau tidak segera dapat kulihat dari caranya bergaul denganku. Bagaimana dengan Rika ? Menurutku, apa yang telah kami lakukan lebih mirip permainan kucing-kucingan. Aku yakin bahwa Rika telah mengetahui (atau setidaknya menduga) tentang perasaanku padanya. Tapi dia sama sekali tak menunjukkan gejala menerima ataupun menolak. Lantas aku harus bagaimana ? Bener-bener membingungkan !

Pernah suatu ketika aku mencoba mengajak Rika untuk ngomong lebih serius tentang cinta. Setelah kuatur strategi sebelumnya, aku mencoba menggiring pembicaraan kami ke situ. Tahukah kalian bagaimana tanggapannya ? Rika langsung ngeloyor pergi dengan "wajah tak berdosa".

"Oiya, aku ada janji sama teman. Sori ya, aku pergi dulu."

Terlepas dari segala sikap anehnya, bagaimanapun Rika adalah gadis yang sangat memikat. Ada sebuah kenangan manis bersamanya yang seumur hidup tak akan pernah kulupakan.Malam itu kebetulan aku lewat di depan gedung latihan tarinya. Sungguh, kali ini aku tak mempunyai rencana untuk menemuinya. Hari sudah larut malam (aku habis kerja lembur) , kupikir tentu Rika sudah pulang sejak sore.

Kaget juga aku melihat Rika seorang diri di depan gedung itu. Segera kuhentikan motorku persis di depannya.

"Rika, kok belum pulang ? Sudah malam ! Nggak baik seorang cewek sendirian malam-malam begini."

"Aku tahu sih ! Seharusnya sudah dari tadi kakakku datang menjemput, tapi sampai sekarang belum datang. Sudah malam begini mana mungkin aku pulang naik kendaraan umum ?!"

"Begini saja ..." aku lalu menghampirinya. "Mau kuantar nggak ?"

Rika agak ragu-ragu sesaat sebelum akhirnya ia menerima ajakanku.

"Thank's banget ya, Vi. Aku jadi nggak enak nih sama kamu."

"Ala, sama teman sendiri kok."

"Bukan begitu ! Kamu kan baru saja pulang kerja, pasti kamu capek. Sekarang kamu masih harus mengantar aku dulu, kan aku jadi merasa bersalah."

"Ka, jelek-jelek begini aku masih punya hati. Mana mungkin aku tega membiarkan teman baikku sendirian menunggu di malam hari begini."

Rika tersenyum. Aku juga.

Pada menit-menit pertama pembicaraan kami masih kaku. Rika lebih banyak diam sambil mengamati kanan kiri. Ketika kulihat sepintas, ia sedang memperhatikan stiker warna merah yang menempel  kaca spionku. Di situ tertera jelas nama lengkapku : WILL LAVIENS VIBI .

"Hey, aku baru tahu sekarang kalau kamu punya nama tengah, Vi!"

Mukaku menjadi merah padam. Memang nama tengahku selama ini kurahasiakan. Kayak nama cewek sih !

"Ka ... Jangan kasih tahu sama orang lain ya ?!"

"Emang kenapa ?"

Aku diam.

"O, karena mirip nama cewek ya ??"

Aku mengangguk, pura-pura berkonsentrasi mengendarai.

"Baiklah, aku janji nggak bakalan membuka rahasiamu ini."

"Nah, gitu dong !"

"Hmm, ngomong-ngomong kita punya kesamaan lho ! Aku juga punya nama tengah. Nama tengahku Viona, hampir sama kan ?!" Jawaban Rika ini membuat kami berdua tertawa bersama-sama.

Sebenarnya, itulah saat pertama aku tahu kalau Rika juga punya nama tengah. Itu juga saat pertama kalinya aku menyenangi nama tengahku.

Selanjutnya kami ngobrol tentang banyak hal. Tentang musik, tari, pekerjaan kantorku, dan berbagai topik lainnya. Ditambah dengan kondisi jalanan yang macet dan penuh sesak, saat-saat bersama itu menjadi sangat indah bagiku, meskipun pembicaraan kami sama sekali tidak menyangkut tentang cinta.

Tidak selamanya kenyataan yang terjadi sesuai dengan harapan kita. Di tengah-tengah kebahagiaanku, dua hari yang lalu kudengar sebuah kabar yang sangat memukul perasaanku. Sore itu kebetulan aku bergabung bersama teman-teman, termasuk Rika, dalam sebuah acara makan. Kawanku Simon yang pada hari itu berulang-tahun mengundang (hampir) semua teman-temannya. Semacam traktiran, gitu lah !

Sebenarnya aku sama sekali tidak berniat menguping. Tapi saat itu tak sengaja aku mendengar obrolan antara Rika dan beberapa sobatnya. Kudengar Rika bercerita bahwa ia lagi jatuh cinta ama seorang cowok cakep, namanya Arfan. Beberapa hari ini cowok itu selalu menjemputnya seusai jam kuliah.

Rasanya dunia mau kiamat. Hampir-hampir aku tak mempercayai pendengaranku sendiri. Kucoba menghibur diri bahwa semuanya itu belum tentu benar. Bukankah aku hanya mendengar sepotong pembicaraan saja ?!
Kuputuskan untuk segera mencari tahu tentang cerita sebenarnya dengan lengkap.

Keesokan harinya (kemarin pagi) aku menelepon Lisa, seorang kawan Rika yang terlibat dalam pembicaraan itu. Kebetulan Lisa adalah kawan baikku yang sudah kukenal jauh sebelum aku mengenal Rika. Jadi aku tak mengalami kesulitan untuk memintanya bercerita lebih banyak tentang Rika dan ceritanya di pesta itu.

Jawaban dari Lisa ternyata adalah jawaban yang paling tidak kuinginkan. Jawaban itu benar-benar memojokkanku ke posisi yang serba salah.

Siang itu aku jadi enggan bekerja dan lebih banyak termenung sendiri. Aku jadi merasa tak enak pada beberapa anak buahku yang datang ke ruanganku membawakan obat karena mengira aku sakit. Ah, mereka begitu perhatian padaku. Sayang sekali aku tak mungkin membuka masalah pribadiku pada mereka. Sebagai seorang manajer, tentu saja aku harus selalu mengendalikan segala sikapku yang menjadi panutan bagi para pegawai lainnya.

Hari ini, aku menerima sebuah kabar yang mengejutkan lagi. Kali ini bukan tentang Rika, tapi urusan kantor. Tadi pagi atasanku memanggilku ke kantornya. Beliau menyampaikan kabar bahwa aku akan diikutkan dalam program studi selama dua tahun di luar kota, tepatnya di Palembang.

Mungkin hal ini bukan masalah jika aku tidak sedang pusing dengan problem cinta. Tapi dengan keadaanku sekarang, aku justru bingung. Apakah aku harus berbahagia karena kabar baik itu ? Di satu pihak memang program studi itu merupakan peluang emas bagiku untuk meningkatkan karir di masa mendatang. Tapi di sisi lain jika aku pergi selama itu sudah pasti aku bahkan tak memiliki kesempatan untuk mencoba merebut hati Rika.

Malam ini aku terus berpikir. Beberapa hari lagi aku harus berangkat. Saat ini seorang pemuda lain telah memperoleh tempat di hati gadis pujaanku. Terus terang aku tidak rela ! Memang, di dunia ini yang namanya cewek nggak cuma satu doang. Tapi kurasa aku tak mungkin akan menemukan lagi seseorang yang dapat mengisi hatiku sebaik Rika.

Cukupkah waktu yang tersisa ini untuk mengubah keadaan ? Biasanya aku bukanlah orang yang mudah menyerah. Aku seorang eksekutif muda yang selalu optimis dalam menghadapi berbagai permasalahan. Aku selalu yakin akan apa yang kukerjakan dan senantiasa berpikir bahwa aku dapat mengerjakan segala sesuatu dengan baik. Tapi kali ini ...

Dalam anganku kini kembali terbayang hari-hari lampau yang telah kulalui dengan gembira bersama Rika. Hari-hari indah yang sebentar lagi akan sirna.Kupersalahkan diriku sendiri. Mengapa tidak dari dulu kunyatakan cintaku pada Rika ? Jika itu kulakukan, barangkali aku masih punya kesempatan. Ah, penyesalan selalu datang terlambat.

Beberapa hari penantian telah kulalui. Kubulatkan hatiku untuk tetap mengikuti program studi itu.

Besok pagi aku akan berangkat dengan penerbangan pertama ke Palembang. Untuk menghindari kesedihan yang lebih dalam, aku sengaja tak berpamitan langsung pada Rika. Aku hanya menulis beberapa baris salam perpisahan di secarik kertas surat merah jambu yang kutitipkan pada Lisa untuk disampaikan pada Rika.

Aku bergegas pergi tidur ketika malam telah tiba. Apalagi kalau bukan untuk jaga kondisi.
Seperti yang kuharapkan, badanku terasa segar ketika pagi ini aku bangun dan mempersiapkan diri untuk berangkat.

Dengan berbekal dua koper besar penuh barang bawaan, aku memasuki taksi pesanan kemarin yang sudah menunggu sejak sepuluh menit yang lalu di depan rumahku. Segera aku dibawa pada tujuanku, bandara udara sungguh cerah pagi ini. Semuanya seolah mengucapkan salam selamat tinggal padaku.

Setelah membereskan masalah masalah tiket, bagasi, fiskal, dan sebagainya, aku melangkah menuju Gate 18 dan memasuki pesawat Boeing 747 dengan tujuan ke Sumatra Selatan, Palembang. Sesudah semua persiapan beres, pesawat segera lepas landas tanpa mengulur waktu lagi.

Ketika penumpang diperbolehkan melepas sabuk pengaman setelah pesawat mencapai ketinggian yang cukup, aku membuka jendela di samping kananku yang semula tertutup. Kotaku yang ramah, kotaku yang penuh kenangan terbentang indah mirip sebuah lukisan.

Kubayangkan Rika sedang membaca salam perpisahan dariku di bawah sana. Selamat tinggal Rika ! Aku sungguh mencintaimu. Sayang, cintaku saja tak cukup untuk menyatukan kita. Biarlah perasaan ini kupendam jauh dalam lubuk hatiku, untuk selama-lamanya.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Sabtu, 07 Juni.

Sudah Dua tahun aku meninggalkan tanah kelahiranku. Setelah menempuh studi dua tahun di Palembang, berturut turut aku mendapat tugas di berbagai kota. Hari ini, aku pulang ke tanah air dengan posisi yang sudah sangat berbeda. Mantan manajer pemasaran ini sekarang telah menjabat sebagai wakil pimpinan untuk urusan hubungan luar kota.

Sore ini aku menghabiskan waktuku untuk jalan-jalan. Bagaimanapun, setelah menjalankan berbagai aktivitas sepanjang siang, badanku perlu penyegaran juga.

Hari pertama di Medan ini sungguh-sungguh melelahkan. Karena itu aku memilih taman kota sebagai tempat pertama yang kutuju. Memang, tempat favoritku ini selalu dapat menghilangkan segala kelelahan yang kualami.

Taman kota yang penuh kenangan ini ternyata tidak banyak berubah dari keadaannya dua tahun yang lalu. Tempat ini masih asri dan hijau. Membawa ketentraman hati bagi siapa saja yang melihatnya.

Ketika pandanganku menangkap sebuah sosok yang amat kukenal, hampir-hampir aku tak mampu lagi mengendalikan perasaanku. Rika ! Kisah lama yang tak akan pernah kulupakan itu tiba-tiba terbentang kembali di hadapanku.

"V- Vibi ? Kamukah itu ?"

"Rika," kataku sambil berusaha tersenyum.

Kami sama-sama diam. Suasana menjadi sangat kaku.

"Ke mana saja kamu selama ini ?"

"Rika, aku ..."

"Vi ... aku sudah membaca suratmu dulu. Apakah ... apakah aku yang membuatmu memutuskan untuk pergi ?"

"Aku ..."

Tak kutemukan kata untuk menjawab pertanyaan itu.

"Aku kangen sama kamu, Vi." Rika memecah keheningan.

"Aku ... aku juga."

"Vi, orang yang bernama Arfan itu tidak pernah ada. Aku mengarang tentang dia karena ... kupikir perasaanku padamu tidak terbalas. Ketika aku menyadari kesalahanku saat membaca suratmu, kamu sudah berangkat tanpa meninggalkan alamat. Maafkan aku, Vi."

"Aku sayang kamu, Ka , " ucapku lirih.

Hati kecilku bergejolak hebat. "A-apakah sekarang masih ada artinya ?"

"Katakan, Ka ! Apakah Rika yang kujumpai sekarang ini masih Rika yang dulu ? Bolehkah aku tahu tanggapanmu atas surat itu ?"

"Aku ... aku merindukanmu selama ini. Kamu harus tahu, akulah orang yang paling menyesal ketika kamu pergi dulu. Banyak hal yang belum sempat kita bicarakan bersama. Maka itu aku sering pergi ke taman kesukaanmu ini. Kuharap suatu hari ketika kamu kembali, kamu akan mengunjungi taman ini. Apakah aku berubah ? Vi ... aku ..."

"Aku mencintaimu Rika. Dulu, sekarang, dan selamanya. Maukah kamu membalas cintaku ?"

Rika terdiam sesaat sebelum akhirnya ia mengangguk pelan. Cukup jelas dan sangat jelas untuk kulihat. Kutatap matanya yang menyiratkan keteduhan itu. Tanpa kusadari jari-jari kami berdua telah saling berpadu dalam sebuah genggaman. Sentuhan kasih sayang yang tak terlupakan ketika segalanya telah berlalu.
< >

Gadis malam !!!

Reaksi:
Dia tampak begitu anggun dengan kemeja biru muda dan celana panjang hitamnya pagi ini. Mataku tak pernah lepas memandang wajah Bella gadis asli Medan yang saat ini kuliah satu kampus denganku. Tepatnya dia adalah adik tingkatku. Sejak awal dia masuk kuliah, aku sudah tertarik padanya. Entah kenapa, gadis itu merebut perhatianku dengan sikapnya yang lebih sering diam daripada bicara pada orang lain.

Nama itu pun kuketahui dari teman-temanku sebelum dia mau menerima uluran tanganku saat kuajak berkenalan. Dingin, sedikit aneh, namun penuh daya tarik, itulah pandanganku tentangnya diawal perkenalan. Dapat kurasakan ada sejuta misteri tersimpan dalam diri gadis itu. Dan saat ini, aku telah sedikit menemukan jawabannya.

***

“Bella tidak seperti gadis pada umumnya. Dia bukan gadis baik-baik. Lebih baik kau pikirkan lagi sebelum terlanjur jauh berhubungan dengannya."

Christian, teman dekatku di kampus, lagi-lagi mengatakan hal yang sama untuk kesekian kalinya. Ini sudah ketiga kalinya ia bicara begitu tentang Bella. Ya. Sejak kukatakan kalau aku jatuh cinta pada Bella.

“Itu kan baru omongan anak-anak, Ee'L. Kita sendiri nggak tahu kebenarannya."

"Matamu benar-benar tertutup sama yang namanya cinta."

Aku mengangkat bahu sambil menyeringai ke arah Christian. Dia cuma mendesah kesal melihat sikapku. Ngotot! Itu istilah Christian untukku.

"Apa kamu sudah membuktikannya sendiri, El?"

"Ha? Maksudmu?"

"Ya....apa kamu pernah lihat sendiri Bella melakukan pekerjaan itu?"

"Belum sih. Tapi Tio, playboy kelas kakap itu katanya pernah merasakannya langsung."

"Ah! Merasakan apa?"

"Tingkah liar Bella." Ee'L diam sejenak. "Tio kan pernah pacaran sama dia. Kalau mau tahu persis, tanya aja sama Tio."

"Tapi kalau cuma gara-gara Tio, ya nggak bisa jadi bukti untuk memvonis Bella melakukan pekerjaan itu kan?"

"Eh, mas, anak-anak sudah tahu semua soal pekerjaan Bella. Atau kau langsung saja cari tahu dari Bellanya sendiri."

" Gila kamu!"

Kutinggalkan Ee'L untuk masuk kuliah. Kulihat ia masih cengar-cengir nggak karuan.

****

Di ruang kuliah pikiranku melayang pada Bella. Berjuta pertanyaan menyesaki pikiranku siang ini. Kadang aku merasa risih juga kalau mengingat pekerjaan Bella, seperti apa yang dikatakan anak-anak di kampus. Serendah itukah Bella? Menjadi seorang wanita penghibur yang keluar tiap malam untuk melayani para lelaki hidung belang dan bertangan nakal. Jika memang benar, apa alasan Bella hingga mau melakukan pekerjaan haram itu. Aku tak habis pikir. Memuakkan. Mengapa gadis yang kucintai harus menjadi seorang wanita tuna susila. Menyedihkan. Tapi itu belum tentu benar.

Hatiku mencoba mencari keyakinan positif tentang Bella. Kulihat selama ini Bella adalah sosok gadis yang ramah, baik hati, walau sedikit tertutup mengenai kehidupannya. Sesaat terdorong juga diriku untuk mencari informasi dari Tio.

****

"Hahahaha...gadis itu? Memang bener, Ray. Bella bukan gadis baik-baik. Dalam diamnya tersimpan sebuah keliaran yang mengimpikan sejumlah materi."

"Materi?" Aku tak mengerti arah pembicaraan Tio.

"Iya. Gadis itu cuma ngejar uang. Dia memberikan tubuhnya demi uang."

Badanku gemetar mendengar kata-kata Tio barusan. Jadi benar...

"Bagaimana kamu bisa tahu, Io?"

Aku harus tahu semua. Aku harus tahu ada rahasia apa pada diri gadis yang kucintai itu. Saat ini aku merasa menjadi orang bodoh yang tak tahu apa-apa.

"Waktu aku ajak Bella ke pantai, dia mau saja. Di sana, di dalam mobilku, aku mulai menyentuhnya."

"Terus?"

"Aku cium dia. Pipinya, bibirnya. Aku nggak nyangka Bella bersikap biasa saja saat itu. Seolah dia telah berpengalaman lebih dari aku."

"Hem..." Aku cuma bisa menggumam.

"Lalu aku buka baju dan kutangnya. Kuremas payudaranya. Gila! Gadis itu seperti sengaja menyodorkan tubuhnya untukku. Terakhir, dia malah minta bayaran padaku."

Aku tak tahan lagi mendengar semua ini. Menjijikkan! Gadis murahan! Makiku dalam hati. Kutahan Tio meneruskan ceritanya. Bagiku semua sudah cukup. Sekarang aku hanya ingin menyendiri. Sendiri!

****

Hari-hari berlalu seperti biasanya. Tapi hubunganku dengan Bella malah semakin dekat. Kami sering ngobrol berdua baik di dalam ataupun luar kampus. Kusadari kalau teman-temanku kurang suka dengan sikapku ini.

Namun jujur aku sendiri tak bisa menghilangkan rasa rindu dan cintaku pada Bella setiap hari. Seperti sore ini di kos Bella. Ironisnya kulihat Bella juga menunjukkan sikap jatuh cinta padaku. Walaupun setelah sekian lama kami begitu dekat, aku tetap tak berhasil membuat gadis itu terbuka padaku mengenai kehidupan pribadinya.

Malam ini, aku merasa sangat pusing dengan perasaanku sendiri. Aku tak sanggup menahan rasa cintaku pada Bella. Harus kuungkapkan malam ini juga! Batinku memaksaku melangkahkan kaki keluar menuju kos Bella.

Sesampai di kos Bella, aku tak menjumpai gadis itu.

"Keluar, mas. Dari jam 8 tadi." Kata seorang teman kos Bella yang membukakan pintu.

Aku segera berangsur pergi tanpa pikir panjang lagi. Akhirnya dua roda motorku melaju sepanjang jalan-jalan kota Medan tanpa ada arah tujuan yang pasti.

Di sebuah jalan sepi di pinggir kota, kulihat Bella sedang berdua dengan seorang lelaki yang mungkin lebih cocok disebut pamannya. Mereka keluar dari sebuah mobil BMW putih dan kulihat Bella berdiri bersandar pada mobil itu. Lelaki itu mendekatinya dan memeluk erat tubuh Bella tanpa ragu-ragu. Serentak wajah milik Bella terhujani ciuman penuh nafsu dari lelaki itu.

Aku mau muntah melihatnya. Darahku memanas naik ke sekujur tubuhku. Nafasku mengalir tak beraturan. Apa-apaan ini? Aku benar-benar tak ingin mempercayainya.

Tak lama kemudian mereka berjalan masuk ke rumah kecil yang tak berada jauh dari tempat lelaki itu memarkirkan mobilnya. Tangan lelaki itu melingkari pinggul Bella dengan mesra sambil sesekali mencumbui Bella yang tampaknya sangat lihai meladeni lelaki itu. Lalu mereka berdua hilang dari pandanganku. Aku tak berani mendekati rumah itu. Aku tak berani membayangkan apa yang akan mereka lakukan di dalam rumah itu. Atau aku tak ingin mengakui semua yang telah kulihat ini? Entahlah. Lebih baik aku pulang.

Kendaraanku melaju kencang menabrak hembusan angin malam yang terasa sangat dingin menusuk tulang rusukku. Sepanjang jalan pikiranku teringat pada sosok gadis pendiam yang selama ini membangun taman bunga cinta di hatiku.

* * * *
Ini adalah hari ke empat sejak aku melihat kejadian di jalan sepi itu. Aku jarang menemui Bella lagi. Tapi sore ini aku sudah berada duduk di kursi ruang tamu rumah kos gadis itu. Kurasa aku harus menanyakan semuanya pada Bella. Hari ini gadis itu harus membuka semua dengan jujur di hadapanku. Aku tak perduli hal-hal lain selain kejelasan mengenai diri Bella.

"Jadi kamu sudah tahu semuanya?"

Suara Bella tampak bergetar takut saat mendengar ceritaku yang melihatnya berdua dengan lelaki bermobil BMW itu."

"Ya! Dan aku ingin tahu ada hubungan apa kamu dengan laki-laki itu?"

"Aku tak bisa menjawabnya."

"Tapi kamu tetap harus menjelaskannya padaku saat ini juga."

"Bukankah kamu sudah dengar dari semua yang dikatakan anak-anak kampus selama ini tentangku?"

"Aku mau dengar dari mulutmu sendiri, Bella."

Gadis itu hanya diam dan diam sambil menundukkan kepalanya.
Bella, apa kamu tidak tahu kalau aku mencintaimu? Aku ingin tahu tentangmu tanpa ada rahasia apapun di antara kita."

"Maafkan aku." Ujarku

"Bella, apa kamu juga punya perasaan yang sama terhadapku?"

Bella menganggukkan kepalanya. "Ya, aku pun mencintaimu." Suaranya terasa gamang menjawab pertanyaanku.

Ada sedikit rasa bahagia di hatiku mendengar jawabannya.

"Baiklah. Lalu siapa laki-laki itu, Bella? Apa semua yang dikatakan anak-anak kampus itu benar? Apa kamu memang seorang wanita...." Aku tak ingin meneruskan kata-kataku. Sungguh menyebut kata-kata itu pun aku sudah merasa risih.

"Iya. Semua itu benar. Aku memang wanita penghibur."

Aku kaget setengah mati. Bella, gadis muda belia yang cantik dan baik hati, yang selama ini memenuhi mimpi-mimpi malamku, ternyata memang benar melakukan pekerjaan haram dan murahan itu. Mendadak rasa cintaku luntur terkikis sedikit demi sedikit dalam kalbuku. Aku kecewa. Sangat kecewa.

"Kenapa kamu sampai melakukan pekerjaan itu, Bella?" Aku tak tahu kenapa aku bertanya hal ini pada Bella.

"Aku terpaksa. Aku butuh uang untuk membayar biaya kuliahku. Juga menanggung biaya hidup keluargaku di desa."

Masih banyak lagi yang dikatakan oleh Bella. Tapi aku tak begitu memperhatikan. Aku tahu ia punya alasan yang cukup masuk akal. Meskipun itu alasan klasik. Aku lebih merasa bingung melihat tubuh Bella yang semakin bergetar kencang di depanku. Tampak sekali kalau gadis itu begitu rapuh dan tak kuat menghadapi sikapku. Seolah ia merasa sangat bersalah padaku. Sedang aku sendiri tak tahu harus berbuat apa.

Memeluknya? Bahkan jiwaku seperti melarangku untuk menyentuh gadis itu. Aku pusing. Sebersit rasa sedih dan bersalah menggayuti batinku. Begitu teganya aku menghakimi seorang gadis belia yang telah mempunyai kesulitan hidup yang begitu rupa. Yang sebenarnya ia juga ingin mempunyai kehidupan normal seperti gadis-gadis lainnya. Betapa jahatnya aku. Ini sangat tidak adil bagi Bella.

"Lebih baik aku pulang."

Akhirnya aku memecah keheningan kami berdua. Hari sudah makin malam. Aku ingin segera sampai di kosku.

"Ray, aku sungguh mencintaimu." Bella berkata dengan pelan sekali sebelum aku meninggalkan teras rumahnya.

"Maafkan aku, WBella."

Tak ada lagi yang bisa aku lakukan di sini. Aku harus menenangkan pikiran dan perasaanku sendiri.

****

Sudah hampir sebulan aku tak bertemu dengan Bella di kampus. Aku pun tak pernah lagi mencoba menemuinya di kosnya. Aku sudah terlanjur kecewa. Aku tak bisa menerima pekerjaan yang dilakukannya selama ini. Teman-temanku di kampus pun tak ada yang tahu tentang keberadaan Bella. Bella seolah tenggelam di kampus kami. Berita dan omongan-omongan miring tentangnya pun tak terdengar lagi. Sepi.

Sampai suatu hari salah satu surat kabar memberitakan tentang kematian seorang wanita tuna susila yang terbunuh secara mengenaskan. Bulu kudukku meremang saat kubaca jati diri wanita yang meninggal itu. Inisial BS, berusia 22 tahun. Seluruh tubuhku lemas seketika. Setelah kutanyakan pada pihak berwajib mengenai tanda pengenal wanita itu, yakinlah aku bahwa gadis itu adalah Bella. Aku hanya terdiam menatap berita di koran itu. Kenapa bisa jadi begini, Bell?

Esok harinya, ada seorang teman kos Bella yang datang menemuiku. Ia membawa sebuah surat yang katanya dititipkan Bella seminggu sebelum kejadian pembunuhan itu. Aku sedikit ragu menerima surat itu.

Kubaca isi lembaran surat dari Bella dengan perlahan. Semakin aku merasa bersalah pada gadis itu. Ingin aku meminta maaf padanya atas apa yang telah aku lakukan sebulan lalu. Saat aku menghakiminya dengan begitu menyakitkan. Sementara aku tak punya hak apa-apa untuk memintanya menjelaskan semua kehidupan pribadinya.

"Ray, aku bahagia bisa dekat denganmu. Dan aku senang kau tidak begitu saja mempercayai omongan teman-teman tentang aku. Aku percaya kalau kau benar-benar mencintaiku. Maafkan aku, Ray. Karena selama ini aku tidak terbuka padamu. Tapi terakhir aku bicara padamu, membuka semua aib diriku, kulakukan semata karena cintaku padamu. Jujur, Ray, aku juga mencintaimu. Namun aku tak berani memintamu melanjutkan cintamu sejak kau tahu tentang diriku itu. Aku sadar, gadis sepertiku tak berhak merasakan ketulusan cintamu. Kamu terlalu baik untukku. Semoga kamu mendapatkan gadis lain yang mencintaimu dengan keanggunan yang sesungguhnya. Aku hanyalah gadis malam. Kehadiranku di dekatmu hanya akan membuat malam-malammu berubah kelam....."

Kulipat surat dari Bella dengan hati galau. Seiring kututup kisah cinta singkatku dengannya. Terbayang lagi wajahnya yang selalu ditemani bibir mungil yang terkunci rapat.

Selamat jalan, gadisku. Selamat malam, gadisku.

Kujatuhkan tubuhku di kasur kamarku. Aku lelah. Kuharap malam ini aku bisa menata mimpi baru untuk menyambut pagi lagi.
 
kami bukan lagi bunga pajangan..
yang layu dalam jambangan…
indah dalam menyerah…
molek tidak menentang…
ke sorga hanya menumpang…
kami bukan juga bunga tercampak..
dalam hidup terinjak-injak…

                         by. Bella Shintia
< >

Sebuah Janji

Reaksi:
Sayang...
Kau tidak akan menerima undangan pernikahanku,
yang sudah kujanjikan hanya akan ada aku dan kamu.

Sayang...
Apa kau tak ingat sebuah kecup,
yang pernah kau hadiahkan tepat di dahiku,
saat malam tepat ingin memeluk kita,
yang tengah menggigil dan mengejang?

Ingat, saat kau singkap rokku diam-diam di tiap malam,
dan kau permainkan lidahmu, memancing birahiku,
yang pernah kau bilang mati?
Maka janinlah hasil semua itu,
yang kugugurkan lalu kuberdiri di kursi tua,
mengikat leherku dengan tali rafia.

Maka hari ini, di hari yang kudamba-damba
kau datang membawa gitar tua memainkan nada-nada minor
dari senar yang sudah ingin tertawa.
< >

Sedikit pun tak berarti !!!

Reaksi:
Aku terus menulis…
Goreskan semua rasa dan asa…
Harapkan sebuah kepuasan,
harapkan sebuah makna, tapi tak kutemukan semua…

Lagi-lagi aku hanya menulis sebuah kekosongan,
kosong yang membuat hati tersesak perih…
Aku yang selalu merasa kosong..
tak mampu mengungkap rasa...
selalu diam menghadapi semua...

Kedatanganmu Adalah Kepergianku...
Aku sudah muak dengan janji-janjimu...
Janji-janji yang hanyalah sebongkah kebohongan..
Hadiah yang selalu kau bawa untukku..
Jikalau kau kembali dari petualanganmu..

Bertahun-tahun aku menunggu kau kembali...
Hanya sebuah kata nihil yang aku peroleh..
Ingin rasanya aku berteriak...
Jika itu bisa menghapus semua kenangan...
< >

Derita dalam dunia

Reaksi:
warta ini hari,
tak berbeda,
tiada kunjung melega,
bahkan berlari,
jauhi beranda,
bahagia duniawi.

tepi-tepi kubur ramai,
dipenuhi panjang antri,
desak-desak,
dengan lebam membengkak.

rantai-rantai kenyataan,
terbelit mesra pada urat2 syaraf.

pesta masih berlangsung,
walau titian hidup sampai di penghujung,
tentu tidak disini,
jelas ditengah sana,
tengah-tengah lumpur hedon.

gagak juga burung2 nazar,
mungkin kan segera berpesta,
tentu,disini,
kelak disana,
disini lebih dulu,

hingar ,
gelak para babi berdasi,
tingkahi badut2 betina berkilau palsu.

tunggu...,
ampas hidangan ,
hangat terhidang,
menyeraki istana-istana kristal,
mungkin dapat jadi peneman kubur kita.


bakar,
dan ini hari memanas,
betapa gedung yang kekar,
lenyap tak berbekas.

hingar,
selayak gagak dan nazar,
betapa gelak para kurcaca,
betapa kurcaci menjerit duka.

dunia dalam derita,
bakar saja hingga rata,
hingga duka kurcaci tak berbekas,
hingga tawa kurcaca tiada jelas !! 
< >

Meungkapkan cinta dengan bahasa lain "Aku Cinta Padamu"

Reaksi:
Afrika : Ek het jou lief
Albanian : Te dua
Arab : Ana behibak (cewe ke cowo)
Arab : Ana behibek (cowo ke cewe)
Armenian : Yes kez sirumen
Bambara : M'bi fe
Bangla : Aamee tuma ke bhalo aashi
Belarusian : Ya tabe kahayu
Bisaya : Nahigugma ako kanimo
Bulgarian : Obicham te
Cambodian : Soro lahn nhee ah
Cantonese Chinese : Ngo oiy ney a
Catalan : T'estimo
Cheyenne : Ne mohotatse
Chichewa : Ndimakukonda
Corsican : Ti tengu caru (cewek ke cowok)
Creol : Mi aime jou
Croatian : Volim te
Czech : Miluji te
Danish : Jeg Elsker Dig
Dutch : Ik hou van jou
English : I love you
Esperanto : Mi amas vin
Estonian : Ma armastan sind
Ethiopian : Afgreki'
Faroese : Eg elski teg
Farsi : Doset daram
Filipino : Mahal kita
Finnish : Mina rakastan sinua
French : Je t'aime, Je t'adore
Frisian : Ik hâld fan dy
Gaelic : Ta gra agam ort
Georgian : Mikvarhar
German : Ich liebe dich
Greek : S'agapo
Gujarati : Hoo thunay prem karoo choo
Hiligaynon : Palangga ko ikaw
Hawaiian : Aloha wau ia oi
Hebrew : Ani ohev otah (cowo ke cewe)
Hebrew : Ani ohev et otha (cewe ke cowo)
Hiligaynon : Guina higugma ko ikaw
Hindi : Hum Tumhe Pyar Karte hae
Hmong : Kuv hlub koj
Hopi : Nu' umi unangwa'ta
Hungarian : Szeretlek
Icelandic : Eg elska tig
Ilonggo : Palangga ko ikaw
Indonesian : Saya cinta padamu
Inuit : Negligevapse
Irish : Taim i' ngra leat
Italian : Ti amo
Japanese : Aishiteru
Kannada : Naanu ninna preetisuttene
Kapampangan : Kaluguran daka
Kiswahili : Nakupenda
Konkani : Tu magel moga cho
Korean : Sarang Heyo
Latin : Te amo
Latvian : Es tevi miilu
Lebanese : Bahibak
Lithuanian : Tave myliu
Malay : Saya cintakan mu / Aku cinta padamu
Malayalam : Njan Ninne Premikunnu
Mandarin Chinese : Wo ai ni
Marathi : Me tula prem karto
Mohawk : Kanbhik
Moroccan : Ana moajaba bik
Nahuatl : Ni mits neki
Navaho : Ayor anosh'ni
Norwegian : Jeg Elsker Deg
Pandacan : Syota na kita!!
Pangasinan : Inaru Taka
Papiamento : Mi ta stimabo
Persian : Doo-set daaram
Pig Latin : Iay ovlay ouyay
Polish : Kocham Ciebie
Portuguese : Eu te amo
Romanian : Te iubesc
Russian : Ya tebya liubliu
Scot Gaelic : Tha gra\dh agam ort
Serbian : Volim te
Setswana : Ke a go rata
Sindhi : Maa tokhe pyar kendo ahyan
Sioux : Techihhila
Slovak : Lu`bim ta
Slovenian : Ljubim te
Spanish : Te quiero / Te amo
Swahili : Ninapenda wewe
Swedish : Jag alskar dig
Swiss-German : Ich lieb Di
Tagalog : Mahal kita
Taiwanese : Wa ga ei li
Tahitian : Ua Here Vau Ia Oe
Tamil : Nan unnai kathalikaraen
Telugu : Nenu ninnu premistunnanu
Thai : Chan rak khun (cewe ke cowo)
Thai : Phom rak khun (cowo ke cewe)
Turkish : Seni Seviyorum
Ukrainian : Ya tebe kahayu
Urdu : mai aap say pyaar karta hoo
Vietnamese : Anh ye^u em (cowo ke cewe)
Vietnamese : Em ye^u anh (cewe ke cowo)
Welsh : 'Rwy'n dy garu di
Yiddish : Ikh hob dikh
Yoruba : Mo ni fe
< >

Surat cinta Vino

Reaksi:
Semua berawal dari pekenalan surat cinta rahasia Astri dan Siska.

Dear some one

Sudah berapa lama aku ingin berkenalan denganmu. Tapi, aku tak punya cukup keberanian untuk mengungkapkannya. Dan hanya satu mimpi terbesarku yaitu bisa berdua denganmu. Namun, masihkah ada tersisa ruang dihatimu? Andaikan ada........., ijinkan aku masuk kedalamnya.
Semoga goresan penaku ini, maukah kamu mengatakan hal yang sama denganku.

                                                             dari seorang yang mencintaimu

                                                                                             VINO


Astri menceritakan penemuan surat itu kepada Siska, Kakaknya. Siska langsung mengklaim kalau surat itu di alamatkan ke padanya. Alasanya, dia pernah melihat surat serupa dengan teman kelasnya, Vino. Siska duduk di bangku yang sama dengan Vino. Hanya saja Siska masuk pagi sedangkan Vino kebagian jatah masuk siang. Asrti juga sudah lama suka dengan kakak kelasnya yaitu Vino.

" Surat ini pasti  kiriman dari Vino buat aku tri, Swear ! " Jari telunjuk dan tengah Siska membentuk huruf V.

" Halo kak ! " Sapa Dewi pada kakaknya Astri dan Siska.

" Mengapa pagi secerah ini, kakak senang dengan pertengkaran? "

" Biasa....., ada yang kegeeran, " Sindir Siska.

" Hei, siapa yang elo maksud? " Astri tersinggung.

" Sabar, sabar, kak ! masalahnya apa nih? " Dewi coba menegahi.

" Si Vino mengirim surat cinta ke rumah kita dan aku pertama kali menemukannya. " Jelas Astri.

" Tapi surat itu merupakan balasan atas surat yang pernah aku lihat ke Vino! " Timpal Siska.

" Tunggu, Tunggu ! Vino mana yang kita bicarakan kak? " Dewi penasaran .

" Itu cowok yang paling keren di sekolah kak." Siska menjelaskan.

" Anak basket, iya? " Dewi bertanya.

" Iya, yang duduk satu kelas dengan kakak ! " Siska tetap dengan alasannya.

" Oooo... Tapi, bagaimana mungkin kalian bisa yakin kalau surat itu dikirim Vino untuk salah satu dari kalian?"

" Yakin banget !" Tegas Siska memberikan alasan yang serupa.

Dewi sepertinya memikirkan sesuatu, karena setiap idenya pasti akan berjalan dengan mulus dan bisa di terimah oleh kakaknya.

" Gimana kalau orang kakak taruhan ? Siapa yang ditaksir kak Vino, dia pemenengnya !" Ide Dewi.

" Oke ! " Siska langsung menyetujui.

" Siapa Takut ! " Astri nggak mau kalah.

" Taruhannya apa ? " Jawab Siska

" Yang kalah harus mentraktir kita selama sebulan ? " Tegas Dewi.

" Deal !!! " Sahut Siska

Astri menjabat tangan Siska bertanda di mulainya sebuah kompetisi. Dua kakak adik ini , nekad menjadi pujangga dan sok romnatis. Mereka nekad mengirim hasil karya mereka masing - masing kepada Vino. Tapi, kali ini tidak melalui jasa orang. Melainkan, diantar langsung secara spesial dan ekslusif kepada pujaan hati Vino. Dewi yang heran melihat aksi kedua kakaknya ikut tertawa dan tidak bisa berbuat apa - apa.

Siang itu, selepas pulang sekolah. Astri dan Siska yang memantau Vino dan Dewi lagi asyik ngobrol sama teman satu tim basketnya vino. Pake acara ketawa - ketiwi segala ! Pokoknya mereka yakin kalau Dewi membantu menyampaikan tujuan mereka tanpa salah.

" Gimana, Wi ? aku yang dipilih ya? " Tanya Siska pada Dewi yang baru saja bertemu dengan Vino.

" Keputusannya baru akan keluar 2 hari lagi. "

" Yaaaaa.......," Asrti dan Siska agak sedikit kecewa. Mereka nggak sabar menunggu terlalu lama, sebab reputasi mereka di pertaruhkan disini.

" Sabar, kak ! " Dewi memberikan dorongan dan menepuk pundak Astri dan Siska.

Malam hari selepas bedung magrib di "STARBUCK COFFE". Berbaju yang bermotif mickey mouse dan beberapa tangkai bunga mawar yang ada telah di belikannya. Siska duduk dengan santainya didalam cafe sambil menunggu sang pangeran datang menghampirinya. Tidak terasa jarum jam sudah bergulir 30 menit menunggu, Vino juga belum datang.

Astri masuk kedalam cafe, ditangannya menenteng bingkisan macam buku yang sampulnya dia bikin dari kertas daur ulang terus kasih pernak pernik cantik, bolpoint pake grafic nama dia dan gantungan kunci yang juga dia bikin sendiri. Biasanya cowok paling suka dengan kreativ sendiri ! Mata Astri berkeliling mencari keberadaan Vino sang pujaan hatinya. Saat matanya melihat sosok mahluk yang sudah dikenalnya.

" SISKA !!! " Astri sangat terkejut.

Astri menghampiri meja Siska

" Ngapain kamu di sini ?! ". sahut Dewi.

Siska tak kalah terkejutnya, menyaksikan Dewi sudah berdiri dihadapannya.

" K...kamu sendiri, ngapain ??? "  tanya Siska.

"  Nunggu Vino. " Dengan santai tanpa ada perasaan mencurigakan, Siska terheran-heran.

" What...!!, bukannya aku yang di pilih Vino?? "

" Ah...., kamu ?! " Dewi tersentak.

" Kayaknya ada yang salah dech." Siska menggaruk-garuk kepalanya.

Ditengah situasi yang membinggungkan, Dewi datang. Dia senyum-senyum melihat kedua kakaknya lagi kebinggungan.

" Gimana nich, Wi? Siapa yang sebenarnya dipilih sama Vino? " Tanya Siska

Dewi mengatur nafas sejenak "sebenarnya.....? Nggak ada yang dipilih sama Vino kak."

" Maksudmu...!!! " Astri dan Siska serentak menjawab sambil kebinggungan

"Lalu surat cinta ini bisa dirumah kita? " Tanya Siska

Melihat kedua kakaknya makin kebinggungan, Dewi nggak tahan lagi menahan tawanya. Tawanya meledak!

Astri dan Siska saling berhadapan.

" Vino yang nulis surat itu buat aku dan kukembalikan lagi pada Vino."sahut Dewi

" Dewwwwwi........sialaaaan kamu !!! " maki Astri dan Siska

" Oo..iya, aku ada kejutan buat kakak !!" Sahut Dewi

Dibelakang Astri dan Siska, berdiri pangeran dan pujaan hati mereka.

" Kenalin kak, ini pacar dewi ! " Vino menyalam Astri dan Siska

" Haaaaaaahhhhh.............????!!!! " Astri dan Siska melongo.
< >